my princess is already here (part 2)

01.26



Posting ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya yang berjudul sama..

Kalian udah pada baca belum??

Kalau belum,
Yuk ah dibaca dulu postingan sebelumnya dengan klik link di bawah ini

πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡


Nah yang udah baca, hayuk di lanjut..!

Seperti yang aku udah cerita, kontraksi alias si gelombang cinta tiba-tiba gak datang lagi waktu macet di pintu keluar tol hingga aku sampai di rumah sakit.

Jadi aku merasa kuat untuk turun sendiri di lobby selagi suami aku cari tempat untuk parkir. Setelah menunjukan surat pengantar dari dokter yang aku dapat waktu cek kandungan seminggu sebelumnya, aku diarahkan untuk menuju IGD oleh petugas resepsionis.

Sesampainya di IGD, aku dihampiri seorang perawat yang mengira aku mau cari keluarga yang kecelakaan. Setelah aku beri tau kalau aku merasa mau melahirkan, si perawat sempat heran sebentar seperti gak percaya karena aku masih kuat berjalan masuk ke ruangan itu sendirian.

Si perawatpun bertanya lagi apakah aku hanya seorang diri saja karena gak kelihatan ada orang lain yang menemani aku. Aku menjawab kalau suami sedang memarkirkan mobil lalu si perawat langsung mengarahkan aku untuk masuk ke dalam salah satu bilik disana.

Gak lama setelah aku berbaring di ranjang dalam bilik itu, suami aku pun datang ke IGD bersamaan dengan ibu mertua yang kebetulan juga baru tiba di rumah sakit. Beberapa saat kemudian ada seorang bidan muda yang masuk ke dalam bilik tempat aku menunggu.

Si bidanpun langsung melakukan cek pembukaan (tau donk caranya tanpa harus aku jelaskan hehehe). Sambil nanya2 history kontraksi aku dan setelah itu si bidan menyimpulkan kalau aku baru pembukaan 3. Lalu perut aku diperiksa menggunakan alat untuk mendeteksi kontraksi tapi saat di cek tidak ada tanda-tanda kontraksi.

Kalau lihat dari ekspresi si bidan, sepertinya aku akan disuruh pulang ke rumah lagi. Namun dia gak ngomong ke aku sih..si bidan meminta petugas IGD menelepon dokter kandunganku untuk memastikan tindakan apa yang harus diambil. Dan ternyata dokter aku bilang ke bagian IGD agar aku langsung masuk aja ke ruang rawat inap sambil menunggu waktu lahiran.

Setelah menutup telepon, petugas langsung menyampaikan ke suami aku untuk mengurus kamar rawat inap di bagian administrasi supaya ruangannya disiapkan dan aku bisa pindah kesana. Sambil menunggu kamar, seorang perawat masuk ke bilik untuk memasang selang infus di tanganku.

Aku agak kaget plus gak nyaman saat itu. Karena aku belum pernah diinfus sebelumnya dan sewaktu melahirkan anak pertama aku si Jordan pun gak pake acara harus diinfus segala. Aku menanyakan cairan apa yang mau ditranfusikan saat itu, apakah obat induksi? dan perawat menjawab itu hanya cairan infus biasa bukan obat induksi dan memang sudah prosedurnya pasien rawat inap harus diinfus.

Si perawat pasti tau aku tegang saat dia mau menusukan jarum selang infus saat itu, dan dia berusaha membuatku lebih relaks dengan menanyakan apakah aku asli orang Bandung. Aku menjawab aku adalah orang asli Kalimantan, si perawat memberi tau aku kalau dia juga dari Kalimantan. Yah memang bukan topik yang penting untuk dibahas saat itu sih, namanya juga dia cuma usaha membuat pasien lebih relaks. Tapi sayangnya, aku adalah tipe orang yang lebih senang suasana yang hening apabila merasakan sakit (maksudnya sakit seperti ditusuk jarum, luka, sakit kepala dan sebagainya loh yaaa bukan "sakit" dengan tanda petik πŸ˜‚) jadinya bukannya relaks aku malah semakin tegang karena diajak ngobrol. Tapi ya yang namanya jarum pasti hanya terasa sakit pada saat ditusukan, setelah itu ya sudah biasa aja walaupun rasanya agak gak nyaman karena gak langsung dicabut.

Setelah aku dipasang infus dan perawat tadi keluar dari bilik aku. Terdengar IGD yang tadinya sepi makin lama makin rame dan mulai ada suara rintihan orang-orang kesakitan. Aku cuma bisa dengar gak bisa lihat keadaan disana karena setiap bilik ditutupi tirai termasuk bilik tempat aku menunggu. 10 menit kemudian suami aku kembali tapi katanya kamar masih disiapkan jadi aku masih harus nunggu di IGD dulu.

Waktu lagi nunggu, gelombang cinta dari si kecil mulai berasa lagi dan rasanya lebih WOW daripada sebelumnya.. Karena ini adalah kali keduanya aku melahirkan secara normal jadi aku berusaha untuk lebih tenang dan menikmati rasa sakitnya kontraksi.  Mertua aku berinisiatif untuk membuat aku tidak merasakan kesakitan dengan tidak henti-hentinya mengucapkan kalimat motivasi, namun seperti yang aku tulis di atas kalau aku lebih merasa tenang dengan suasana hening (ini emang keturunan dari papi mami aku sendiri πŸ˜„πŸ˜„) Jadi bukannya relaks aku malah tambah pusing dengar mertua aku gak berhenti ngomong (namanya ibu2 Sunda yang kalau sudah ngomong bisa lupa berhentiπŸ˜… ) so sorry ya mah kalau Indah sempat minta mamah untuk berhenti ngomong soalnya Indah butuh ketenangan hehehe...

Rasa sakit yang campur aduk dari perut mules, nyeri yang terasa di bagian pinggang dan pinggul sampai kebelet pipis. Akupun minta suamiku untuk mengantarku ke toilet. Tadinya suamiku menyarankan untuk nanti aja ke toilet yang ada di kamar saja karena toilet IGD kebanyakan tidak higienis. Tapi siapa sih yang bisa nahan pipis lebih lama pada saat seperti ini jadi aku memaksa untuk menggunakan toilet IGD. Sesampainya di toilet gak setetes pun air pipis yang keluar. Aku pun udah mulai feelin’ kayaknya bentar lagi waktunya berojol.

Jadi sedikit panik donk secara masih harus nunggu di IGD karena kamar masih disiapkan. Sekembalinya ke bilik dari toilet, suasana disana sudah mulai gaduh. Di sebelah kiri terdengar rintihan ABG yang merintih kesakitan akibat kecelakaan sambil manggil-manggil ibunya. Sedangkan disebelah kanan bilik ditempati seorang nenek yang lagi diare. Anyway aku melahirkan bukan di rumah sakit khusus bersalin ataupun rumah sakit ibu dan anak, jadi gak heran di IGD aku harus campur dengan pasien yang beraneka ragam keluhannya.

Entah karena emang udah waktunya atau karena tegang gara-gara gak bisa pipis tadi atau mungkin karena suasana di IGD yang gak kondusif, si gelombang cinta makin intens datangnya dan makin yahud rasanya. Aku udah mulai gak tenang di dalam bilik, pengen jalan-jalan supaya kontraksinya gak terlalu berasa tapi gak bisa karena tau aja kan seberapa gede sih ukuran bilik IGD rumah sakit. Aku mulai gak nyantai dan minta suamiku nanyain apa kamarnya udah ready.

Entah apa yang membuat lama banget disiapinnya, aku menunggu hampir 2 jam untuk bisa pindah ke kamar rawat inap. Suamiku bolak-balik nanya ke petugas karena aku udah terlihat gak asik karena harus merasakan sakit yang makin lama makin luar biasa. Hingga akhirnya datang perawat yang membantu aku untuk pindah dari IGD.

Tapi walaupun sudah bisa meninggalkan IGD bukan berarti aku bisa lega, justru perjalanan dari sana menuju kamarku yang ada di lantai atas (lupa lantai 2 atau 3) menjadi masa dimana aku harus struggle menahan rasa sakit yang udah mulai makin pendek jedanya. Sampai-sampai aku meminta mertua aku untuk ikut menemani aku dalam lift pasien (karena cuma 1 orang yang diperbolehkan mendampingi di lift jadi aku suruh suami aku naik lift tamu aja). Tiap kali rasa gelombang cinta datang aku minta mertua aku untuk memijat pinggang bagian belakang aku, rasanya sangat enak dan buat aku sedikit relaks. Ada kali sekitar 4 sampai 5 kali aku merasakan kontraksi saat menuju kamar.

Sesampainya di kamar, dramapun mulai sampai ke klimaksnya.

Tapi, terlalu panjang kalau aku tulis di part ini..

So lanjut di part 3 yaaa..

klik link di bawah
πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡

MY PRINCESS IS ALREADY HERE (PART 3)


X.O.X.O

JC's Momma
(Karena anak aku sudah 2 sekarang..
Jordan & Chloe
jadi disingkat jadi JC)

You Might Also Like

0 comments

TWITTER

PROMO

Instagram

Subscribe